SELAMAT DATANG DI BLOG GURU PPKN-GURU PEMBELAJAR SEPANJANG HAYAT-BELAJAR BERBAGI-MERDEKA BELAJAR ABAD 21
Guru PPKN Abad 21

Berbicara tentang isi kurikulum 2013 mungkin tidak ada henti-hentinya,untuk kita pelajari lebih dalam,karena isi Pembelajaran dan penilaian hasil belajar merupakan komponen esensial dalam implementasi Kurikulum 2013. 

Keberhasilan pembelajaran dapat diketahui melalui penilaian. Hasil penilaian juga digunakan untuk menyempurnakan pembelajaran. dan merupakan Keterpaduan dan keefektivan pembelajaran dan penilaian sangat besar pengaruhnya dalam keberhasilan implementasi Kurikulum 2013. 

Hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan Kurikulum 2013 tingkat SMP pada tahun 2014 menunjukkan bahwa salah satu kesulitan pendidik dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 adalah dalam melaksanakan penilaian hasil belajar dengan segala perubahan atau revisi yang ada. Sebagian pendidik bahkan belum dapat merancang, mengembangkan instrumen, melaksanakan, mengolah,melaporkan, dan memanfaatkan hasil penilaian dengan baik. 

Kesulitan utama yang dihadapi pendidik: merumuskan indikator, menyusun butir-butir instrumen, dan melaksanakan penilaian sikap dengan berbagai macam teknik. Selain itu, banyak di antara pendidik yang kurang percaya diri dalam melaksanakan penilaian keterampilan. Mereka belum sepenuhnya memahami bagaimana menyusun instrumen dan rubrik penilaian keterampilan. sebagian Kesulitan lain yang banyak dikeluhkan pendidik berkaitan dengan penulisan deskripsi capaian aspek sikap, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan. 

Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum menentukan kualitas peserta didik yang akan dicapai kurikulum, sumber dan isi dari kurikulum, proses pembelajaran, posisi peserta didik, penilaian hasil belajar, hubungan peserta didik dengan masyarakat dan lingkungan alam di sekitarnya. Kurikulum 2013 dikembangkan dengan landasan filosofis yang memberikan dasar bagi pengembangan seluruh potensi peserta didik menjadi manusia Indonesia berkualitas yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional. 

Kurikulum 2013 dikembangkan atas dasar adanya kebutuhan akan perubahan rancangan dan proses pendidikan dalam rangka memenuhi dinamika kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara, sebagaimana termaktub dalam tujuan pendidikan nasional. Dewasa ini perkembangan pendidikan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Perubahan ini dimungkinkan karena berkembangnya tuntutan baru dalam masyarakat, dunia kerja, dan dunia ilmu pengetahuan yang berimplikasi pada tuntutan perubahan kurikulum secara terus menerus. Hal itu dimaksudkan agar pendidikan selalu dapat menjawab tuntutan perubahan sesuai dengan jamannya. Dengan demikian keluaran pendidikan akan mampu memberikan kontribusi secara optimal dalam upaya membangun masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Kurikulum 2013 dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan perwujudan konsepsi pendidikan yang bersumbu pada perkembangan peserta didik beserta konteks kehidupannya sebagaimana dimaknai dalam konsepsi pedagogik transformatif. Konsepsi ini menuntut bahwa kurikulum harus didudukkan sebagai wahana pendewasaan peserta didik sesuai dengan perkembangan psikologisnya dan mendapatkan perlakuan pedagogis sesuai dengan konteks lingkungan dan jamannya. Kebutuhan ini terutama menjadi prioritas dalam merancang kurikulum untuk jenjang pendidikan menengah khususnya SMP. Oleh karena itu implementasi pendidikan di SMP yang selama ini lebih menekankan pada pengetahuan, perlu dikembangkan menjadi kurikulum yang menekankan pada proses pembangunan sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik melalui berbagai pendekatan yang mencerdaskan dan mendidik. Penguasaan substansi mata pelajaran tidak lagi ditekankan pada pemahaman konsep yang steril dari kehidupan masyarakat melainkan pembangunan pengetahuan melalui pembelajaran otentik. Dengan demikian kurikulum dan pembelajaran selain mencerminkan muatan pengetahuan sebagai bagian dari peradaban manusia, juga mewujudkan proses pembudayaan peserta didik sepanjang hayat. Kurikulum 2013 dikembangkan atas teori “pendidikan berdasarkan standar”(standard-based education), dan teori kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum). Pendidikan berdasarkan standar menetapkan adanya standar nasional sebagai kualitas minimal warganegara yang dirinci menjadi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan untuk bersikap,berpengetahuan, berketerampilan,dan bertindak. Kurikulum 2013 menganut: (1) pembelajaan yang dilakukan guru (taught curriculum) dalam bentuk proses yang dikembangkan berupa kegiatan pembelajaran di sekolah, kelas, dan masyarakat; dan (2) pengalaman belajar langsung peserta didik (learned-curriculum) sesuai dengan latar belakang,karakteristik, dan kemampuan awal peserta didik. Pengalaman belajar langsung individual peserta didik menjadi hasil belajar bagi dirinya, sedangkan hasil belajar seluruh peserta didik menjadi hasil kurikulum. Pada kesempatan ini saya mencoba berbagi mengenai bagaimana memberikan penilaian Raport untuk semester akhir atau yang biasa kita sebut dalam kurtilas PAT (Penilaian Akhir Tahun). Kita tahu bahwasannya untuk kelas IX sebentar lagi akan diadakan USBN dan untuk kelas VII dan VIII akan diadakan Ujian Penilaian Akhir Tahun (PAT), kita perlu sadar bahwasannya dengan kegiatan tersebut tentunya kita sebagai seorang pendidik harus mempersiapkan sedini mungkin membuat lembar penilaian untuk peserta didik kita untuk bisa memberikan penilaian pada raport. ada Untuk memberikan penilaian pada raport semester akhir tersebut tentu ada cara-cara yang harus kita lakukan terlebih dahulu, diantaranya ada Penilaian Harian Dalam melakukan penghitungan Nilai Penilaian Harian (NPH) satuan pendidikan dapat melakukan pembobotan terhadap teknik tes tulis dan penugasan. Misalnya disepakati bahwa bobot untuk tes tulis 60% dan penugasan 40%, maka NPH untuk: KD 3.1 = (60% x 85) + {40% x (90 + 84) : 2} = 51 + 34,8 = 85,8 KD 3.2 = (60% x 80) + (40% x 88) = 48 + 35,2 = 83,2 Dan seterusnya.... Untuk KD 4.1 penilaian menggunakan nilai optimum karena teknik penilaian yang dilakukan sama,yaitu praktik dan dilakukan lebih dari satu kali penilaian. Untuk KD 4.4 penilaian menggunakan nilai optimum pada produk (90) kemudian diratarata dengan nilai proyek (86), sehingga diperoleh nilai 88. Nilai akhir semester diperoleh berdasarkan rata-rata nilai akhir keseluruhan KD keterampilan yang dibulatkan,yaitu: (90 + 86 + 75 + 88 + 85) : 5 = 84,8 = 85 (dibulatkan) Berdasarkan data nilai PH, PTS, dan PAS, satuan pendidikan dapat melakukan pembobotan menentukan nilai rapor. Misalnya disepakati oleh satuan pendidikan bahwa bobot untuk NPH = 50%, NPTS = 25%, dan NPAS = 25%, maka penghitungan nilai rapor adalah: Nilai rapor = (50% x 82,5) + (25% x 80) + ( 25% x 78) = 41,25 + 20 + 19,5 = 80,75 = 81 (dibulatkan). 

"Belajar Sepanjang Hayat-Belajar Berbagi"
Guru PPKN Abad 21
Bangsa Indonesia lagi diperhadapkan dengan tantangan berat yakni Pandemik Virus Corona atau Covid 19, dan hingga saat ini belum ditemukan vaksinnya dan bahkan banyak korban nyawa melayang diberbagai daerah khususnya di Negeri kita tercinta ini dan bahkan sampai pada pelosok dunia.

Dan akibat dari peristiwa yang sangat menghawairkan ini membuat semua kalangan masyarakat maupun pemerintah menjadi resah dan terus berupaya untuk terus memikirkan cara terbaik dalam menemukan sebuah solusinya. Hingga pemerintahpun mengeluarkan berbagai aturan seperti Pembatasan sosial Berskala Besar (PSBB).

Sebagai bangsa yang besar, tentu harus saling mendukung dalam membangun sebuah budaya bangsa untuk tetap solid dan focus pada sebuah tantangan yang sedang kita hadapi ini yakni dengan tetap menjaga kerukunan, persatuan kesatuan bangsa, dan tetap menjunjung rasa kemanusiaan / solidaritas yang tinggi.

Sebagai bangsa yang berbudaya maka kita sebagai generasi muda perlu membangun sebuah sikap yang bijaksana, inovatif, kreatif dan cerdas serta rasa kepedulian dan saling memiliki agar bangsa yang kita cintai ini tetap terjaga dan selalu sehat dalam segala keadaannya dalam Naungan Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga bangsa kita tetap beradab dan terus jaya.

Dan tentu dalam kondisi seperti ini kita sebagai generasi muda harus tetap berjuang dan bisa tetap belajar dengan bijak dan selalu berpikir optimis dan positif untuk saling mendukung dan maju bersama melawan covid 19.

Tentu bukanlah hal mudah untuk menjadi seorang pahlawan kemanusiaan seperti yang dilakukan oleh para medis medis kita, yang sampai mempertaruhkan nyawanya dan keluarga demi kemanusiaan dan panggilan jiwanya dalam melawan dan penanganannya melawan covid 19 ini.

Ditengah - tengah pesatnya Ilmu Pengetahuan Teknologi dan seni tentu punya tantangannya tersendiri baik bagi pemerintah maupun masyarakat / Netizen) bahkan pengguna internet pun masih banyak yang kurang beretika dalam memanfaatkan media sosial sehingga masih ada oknum tertentu yang menyebarkan sebuah berita Hoaks,/membuat Vidio Vidio yang kurang etis sehingga masyarakat yang masih awam dengan media sosial mudah terprovokasi oleh hal- hal yang kurang baik.

Dalam menghadapi sebuah pandemik ini tentu dalam berbagai sektor kehidupan akan mengalami sebuah kepincangan atau tidak normalnya sebuah instansi / Lembaga / perusahaan dan lainnya dalam menjalankan tugas dan fungsinya, sehingga banyak yang menjadi korban PHK / kehilangan sebuah pekerjaan dan berdampak pada keluarganya.

Demikian halnya dalam dunia pendidikan yang akan kita hadapi, di tengah tengah mewabahnya virus ini banyak tantangan yang harus dihadapi oleh para pendidik, lembaga, orang tua maupun siswa itu sendiri. Belum lagi masih kurangnya pemerataan seperti keluhan tidak adanya listrik, jaringan internet maupun masih banyak anak anak yang belum mengenal android seperti siswa- siswi di daerah terpencil. Tetapi dengan kekurangan itu bukan berarti seorang guru hanya tidur-tiduran sambil memakan gajinya dengan cuma cuma tanpa melakukan sesuatu untuk anak didiknya, sehingga muncul isu atau pendapat diluar sana " guru makan gaji buta". karena akibat pandemik ini sehingga sekolah sekolah pada dirumahkan untuk tetap belajar dengan berbagai cara.

Guru adalah sebuah profesi yang melekat pada dirinya dan merupakan sebuah panggilan jiwanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagamana yang telah diamanatkan oleh UUD 1945 maupun aturan lainnya sehingga apapun keadaannya dan bagaimanapun situasinya tentu sudah ia hadapi dan menjadi bagian uniknya tersendiri untuk terus berinovasi dan berkarya demi tugas dan tanggungjawab yang ia emban.

Sebagaimana saya telah jelaskan diaatas tentang kemajuan IPTEKS dunia pendidikanpun tidak kalah saing dalam pemanfaatan teknologi agar trus belajar dan melek ITE, sebab sudah merupakan tuntutan untuk menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan profesinya dalam menguasai dan cara pemanfaatan sebuah IPTEK dengan bijaksana untuk terus berinovasi dalam berkarya.

Hal inipun sudah merupakan sebuah instruksi dari Kementerian pendidikan maupun pemerintah daerah untuk terus berikhtiar dalam segala hal pemajuan pendidikan, dengan bergotongroyong / maju bersama setiap elemen terkait seperti Guru, Orang tua, tokoh masyarakat, tokoh agama, lembaga pemerintah / organisasi maupun siswa itu sendiri untuk terus berjuang bersama, dan menciptakan suasana belajar dan pembelajaran yang kondusif dan bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara sehingga semuanya itu kembali menjadi sebuah karya yang agung untuk tetap memuliahkan Tuhan Yang Maha Esa.

Marilah kita ambil hikmahnya ditengah tengah wabah ini untuk berpikir lebih matang dan dewasa dalam segala keadaan. sebab ini merupakan sebuah ujian dan kesempatan untuk kita belajar dan terus mempererat rasa kemanusiaan dan persaudaraan, persatuan, kesatuan bangsa menuju bangsa yang beradab dan mampu bersaing secara sehat diera global abad 21 dan era industri 4.0.

Berikut pesan Bapak Menteri Pendidikan dalam acara peringatan Hari Pendidikan Nasional Tanggal 2 Mei 2020.

#Salam Edukasi
#Terus Belajar
#Merdeka Belajar
#Tetap Dirumah
#Bersama Lawan Covid 19.

Kiranya Tuhan Yang Adalah Sumber Kehidupan Selalu Menjaga,Melindungi dan Menyertai kita sekalian....Aminnnn.
Oktavianus Umbu Kuta, S.Pd.Gr
Tweet : @Umbu Kuta
IG : oktavianus_umbu_kuta


Guru PPKN Abad 21


Peraturan Pemerintah (PP)No 19 Tahun 2017 Tentang perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru memiliki dasar hukum yaitu: ... Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586);

Perlindungan terhadap profesi guru sendiri sudah diakui dalam PP Nomor 74 Tahun 2008. Dalam PP itu, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Dalam mendidik, mengajar, membimbing hingga mengevaluasi siswa, maka guru diberikan kebebasan akademik untuk melakukan metode-metode yang ada. Selain itu, guru juga tidak hanya berwenang memberikan penghargaan terhadap siswanya, tetapi juga memberikan punishment kepada siswanya tersebut.

"Guru memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulis maupun tidak tertulis yang ditetapkan guru, peraturan tingkat satuan pendidikan, dan peraturan perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah kewenangannya," bunyi Pasal 39 ayat 1.

Dalam ayat 2 disebutkan, sanksi tersebut dapat berupa teguran dan/atau peringatan, baik lisan maupun tulisan, serta hukuman yang bersifat mendidik sesuai dengan kaedah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan. 

"Guru berhak mendapat perlindungan dalam melaksanakan tugas dalam bentuk rasa aman dan jaminan keselamatan dari pemerintah, pemerintah daerah, satuan pendidikan, organisasi profesi guru, dan/atau masyarakat sesuai dengan kewenangan masing-masing," papar Pasal 40.

Rasa aman dan jaminan keselamatan tersebut diperoleh guru melalui perlindungan hukum, profesi dan keselamatan dan kesehatan kerja.

"Guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain," tegas Pasal 41.

#Salam Edukasi
#Mengabdi Tanpa Batas
#Merdeka belajar
#Belajar Sepanjang Hayat

Guru PPKN Abad 21


1. Bertuhan/berkeyakinan
2. Berkemanusiaan
3. Persatuan
4. Musyawarah/Kerjasama
5. Berkeadilan sosial, Hidup sejahtera,adil,makmur


Tuhan tentu sudah hadir di hati anak-anak kita, dalam perspektif mereka masing-masing. Pendidikan Pancasila yang tepat akan menguatkan kehadiran-Nya. Bukan sekadar berwujud formalitas beragama, tapi dalam wujud spiritualitas dan keyakinan yang mendalam.

Dalam (2 Timotius 3:16)berkata bahwa "Segala tulisan yang diihamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran

Keyakinan dan spiritualitas itu yang akan memudahkan mereka meraih kesuksesan. Begitu pula nilai-nilai lain Pancasila, seperti kemanusiaan,persatuan, berdemokrasi/musyawarah/gotong-royong, hingga nilai keadilan sosial atau kemakmuran/kesejahteraan. Pendidikan Pancasila yang, sekali lagi, tepat, akan membuat nilai-nilai tersebut relevan dengan keperluan mereka buat meraih masa depan yang cemerlang dan beradab.

Lalu seperti apa pendidikan Pancasila "yang tepat" itu? Para pakar sepakat pendidikan perlu melalui tiga pintu: 1.Keteladanan (role modeling,
2.Pembiasaan (conditioning), dan 3.Pengajaran (learning).

Pendidikan Pancasila mengacu pada kaidah itu.

Keteladanan menjadi hal yang utama. Seberapa jauh orang tua, guru, hingga tokoh masyarakat menjadi teladan berpancasila, Seberapa dalam spiritualitas orang tua dan guru, Juga kepedulian mereka kepada sesama, Itu yang pertama kali perlu ditumbuhkan buat menguatkan kepancasilaan setiap anak.

Selanjutnya, wujud pembiasaannya di sekolah, yakni melalui hal-hal sederhana yang menjadi cermin nilai Pancasila, seperti pembiasaan untuk berdoa, Salam, mengucap "maaf", "terima kasih", dan "tolong menolong". Juga pembiasaan untuk, disiplin dan menjaga kebersihan.

Keteladanan dan pembiasaan adalah pendekatan yang paling diperlukan untuk pengajaran Pancasila. Ketika keduanya berjalan baik, 80 persen pengajaran Pancasila sudah selesai. Selebihnya dapat diperoleh dari jalan lain, termasuk pengalaman hidup.

Masih perlukah pelajaran Pancasila...

 Pelajaran akan melengkapinya. Pelajaran yang tentu perlu berbeda dengan pelajaran lain, bukan semata tema/topiknya. Lebih dari itu adalah karakter materinya.

Pelajaran umumnya mengenai ilmu pengetahuan, dari kurikulum hingga metode pembelajaran yang mendorong penilaian yang terukur. Namun Pancasila bukan ilmu. Pancasila adalah pengetahuan yang menitikberatkan pada NILAI. dan Perlu pembelajaran yang sangat menarik agar nilai dapat tertanam.

Menarik. Ya, itu kata kuncinya. Bagi generasi Z dan generasi Alpha, menarik adalah keharusan. Mereka menolak pembelajaran formal dan normatif. Model pembelajaran begitu hanya akan mengapatiskan mereka. Sebaliknya, pembelajaran menarik akan membuat mereka antusias.

Dapatkah Pancasila menjadi pelajaran yang akan membuat mereka antusias...

 Itu tantangannya. Jika bisa, Pancasila akan melejitkan generasi MILINEAL buat menaklukkan masa depan. Meski tampak suka bermain, generasi ini punya potensi luar biasa, lebih dari pendahulunya. Tinggal bagaimana kita membangkitkannya.
Guru PPKN Abad 21

 https//umbukuta.blogspot.com
Peserta BIMTEK Karya Ilmiah- Hotel Pelita Waikabubak
Pendidikan dan pelatihan karya ilmiah untuk Guru dan tenaga kependidikan jenjang SD-SMP kabupaten Sumba Tengah, digiatkan sebagai wadah peningkatan pembelajaran yang lebih baik sekaligus untuk peningkatan mutu serta kompetensi pendidik sehingga dapat bermuara pada peningkatan mutu dan rasa tanggungjawab pendidikan demi generasi bangsa yang akan datang.

Kegiatan ini dihadiri 100 orang peserta yang terdiri dari guru guru tingkat SD maupun SMP dengan bimbingan widyaswara (WI) dari LPMP provinsi NTT dan instruktur kabupaten sumba tengah.
  1. Ibu Rosmiti Uli - (Wi) LPM Prov NTT
  2. Rahmad Aman -(Wi) LPM Prov NTT
  3. Daud Milla Dasalaku - Instruktur pendamping Kabupaten
  4. Martinus M. Palanga. Instruktur Pendamping Kabupaten
Pada kesempatan pertama dihari pertama Bapak Dominggus Sili Wunu selaku kabid SD Dinas pendidikan kabupaten sumba tengah mewakili Bapak kepala dinas pendidikan yang saat itu berhalangan hadir karena satu alasan, sehingga kegiatan ini dibuka dan diresmikan oleh bapak Dominggus Sili wunu,S.Pd.

Pada kesempatan yang sama beliu sempatmenyampaikan beberapa hal alasan mengapa kami selaku dinas pendidikan selalu menggalang/mengiatkan berbagai kegiatan yang berkaitan denganpeningkatan kinerja guru khususnya di sumba tengah sebab pemerintah sumba tengah benar benar serius dalam meningkatkan mutu pendidikan khususnya di kabupaten sumba tengah, untuk itu perlu belajar untuk kita terus meningkatkan mutu pendidikan secara serius demi generasi kita khususnya generasi TANA WAIKANENA LOKU WAIKALA.
beliu juga menyampaikan bahwa tingkat pendidikan kita masih sangat rendah bahkan menjadi peringkat terakhir baik tingkat provinsi maupun nasional, sempat ia keluhkan bahwa guru guru kita bukannya tidak bisa atau tidak mampu bersaing tapi kurangnya keseriusan dalam hal belajar atau peningkatan kompetensi untuk belajar serius.

Ia mencontohkan bahwa dalam seleksi pemilihan guru berprestasi tahun 2019 hampir 100% tidak ada yang mau ikut berkompetisi, untuk itu Ia berharap dengan adanyaya kegiatan ini mutu pendidikan kita disumba tengah semakin baik dan membawa pengaruh perubahan yang lebih baik, hingga tahun tahun yang akan datang bisa berkompetisi di kanca nasional.

Kegiatan ini juga sejalan dengan perintah konstitusi yakni PermenPAN- RB No 16 Tahun 2009 tentang tentang jabatan fungsional guru yang mensyaratkan bahwa guru harus melakukan penelitian tindakan kelas sebagai syarat guru untuk kenaikan pangkat.

Selama empat hari kegiatan berlangsung  dimana peserta yang dibagi kedalam 2 kelas dengan didampingi para pengajar senior yang sudah teruji, peserta dibimbing untuk belajar serta mengkaji berbagai ilmu yang berkaitan dengan karya ilmiah hingga pada nantinya dapat terimplementasi ke lapangan sebagai wujud pengembangan kompetensi dibidang pendidikan untuk memperbaiki segala proses pembelajaran yang dihadapi dilapangan.

Untuk itu manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik baiknya untukbelajar dengan giat dan tekun sehingga bisa membawa ilmu untuk proses yang lebih baik.

Terimah kasih kepada
1. Bapak Bupati Sumba Tengah
2. Dinas Pendidikan Sumba Tengah
3. Para pembimbing (WI) LPMP Prov NTT
4. Para pembimbing Kab Sumba Tengah.
5.Panita Pelaksana kegiatan
5.Rekan-Rekan pesertaGuru2 Sumba Tengah.


Waikabubak,02 September 2019-Hotel Pelita


Guru PPKN Abad 21







Asalammu-Alaikum-Warahmatulahi-Wabarukatu
Om Swastyastu
Namo Budhaya
Salam Sejahtera
Syalom

Selamat Pagi.....
Salam Kemerdekaan...
MERDEKA.....MERDEKA....MERDEKA.....

Yang saya hormati : Bapak Kepala SMPN 2 Umbu Ratu Nggay Barat
Yang saya hormati bapak/ibu guru SMPN 2 Umbu Ratu Nggya Barat
Yang saya hormati staf/pegawai SMPN 2 Umbu Ratu Nggay Barat
Yang saya kasihi anak-anaku-peserta didik SMPN 2 Umbu Ratu Nggay Barat
Singkatnya hadirin yang saya banggakan.

Pertama-tama marilah kita panjatkan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas perkenan dan perlindunganNya hingga kita dapat hadir dan bertemu ditempat ini untuk melaksanakan upacara dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke 74 Tahun Republik Indonesia dalam keadaan sehat walafiat.

Hadirin yang saya banggakan

Negara kita merayakan kemerdekaan yang ke 74 Tahun ini bukanlah hal yang mudah seperti membalikan telapak tangan atau kemerdekaan ini bukan merupakan hadiah dari bangsa lain. Tapi kemerdekaan yang kita rayakan ini adalah sebuah proses yang panjang hingga dalam meraihnya pun banyak pengorbanan yang dikorbankan bahkan sampai titik darah penghabisan.

“Lebih baik  mati dari pada  hidup terjajah” yang merupakan semboyan pejuang Indonesia dalam menghadapi penjajah. Lebih dari 350  tahun bangsa kita terjajah tak sedikit harta, nyawa dan keluarga yang mereka korbankan demi memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.
Perang terjadi di seluruh daerah di Indonesia. Anak kecil, wanita,orang tua menjadi korban. Tapi hal tersebut tak menyurutkan niat para pahlawan untuk terus berjuang.  Jum’at 17 Agustus 1945 pada bulan Ramadhan, Indonesia memproklamirkan kemerdekaan kepada dunia. Dengan upacara sederhana dan pengibaran Sang Saka Merah Putih hasil jahitan Ibu  Fatmawati merupakan simbol bahwa Indonesia telah bebas dari belenggu penjajah.
Setelah 74 tahun kemerdekaan kita raih, sudah sepatutnya sebagai penerus perjuangan bangsa untuk memperingati, mengingat dan melanjutkan perjuangan para pahlawan. Tak perlu berperang secara fisik, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk melanjutkan cita-cita pahlawan dalam mewujudkan Indonesia yang merdeka dari penjajah baik itu dari luar maupun penjajah dari dalam berupa kemiskinan, kebodohan, kemalasan, egoisme, masalah kesehatan, lingkungan dan lain sebagainya.
Salah satu hal yang ingin kita wujudkan dalam meneruskan cita-cita pahlawan tersebut adalah dengan mengajak  warga sekolah dan masyarakat untuk sadar akan pentingnya membangun pendidikan karakter bangsa yang bermutu, unggul, religius,bekerja sama,  bermartabat serta peduli pada lingkungan dan  sesama. Hal ini sebagaimana tertuang dalam visi dam misi SMPN 2 Umbu Ratu Nggay Barat.
Dalam menyongsong era industri 4.0 dengan membangun sumber daya manusia untuk Indonesia unggul tidak lain adalah dengan melalui pendidikan. Dengan pendidikan yang berpegang teguh pada pedoman/dasar yang telah diletakkan oleh para pendiri bangsa harusnya kita sudah sadar dengan mata terbuka untuk melihat perkembagan dunia yang semakin pesat. untuk itu sudahkah kita puas dengan apa  sudahkita  kerjakan dan yang sudah kita raih sekarang? Bukankah bangsa ini masih berjuang dan membutuhkan generasi-generasi yang unggul, kuat, berkarakter, religius, dan bermartabat untuk siap dalam menyongsong era milineal 2045.
SMPN 2 Umbu Ratu Nggay Barat  yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki tanggungjawab  untuk membangun bangsa yang kita cintai ini, hingga tercipta generasi TANA WAIKANENA LOKU WAIKALALA yang unggul, religius, bermartabat dan berkarakter sehingga dapat diandalkan pada masa yang akan datang dalam menghadapi era global.
Mari sebagai anak bangsa dan generasi penerus bangsa, bersama-sama bekerja dengan hati dalam mengisi kemerdekaan ini sehingga tidak ada lagi penjajahan masa kini. Saatnya  kita bangkit untuk memberantas segala macam jenis penjajahan masa kini seperti, kemalasan, kebodohan, egoisme, acuh tak acuh, ketidakdisiplin, sombong, tidak menghargai, tidak toleran, dan lain sebagainya.
Mari kita bangkit bersama membangun sumber daya manusia yang unggul untuk Indonesia maju.  Mari  maju bersama mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia. Mari bergandengan tangan menuju indonesia  yang kuat. Mari  melangkah bersama untuk meraih cita-cita.
Kiranya Tuhan yang adalah sumber kemerdekaan, senantiasa memberikan kita kesehatan, akal budi dan kekuatan untuk meraih semuanya itu.
Belajar sepanjang hayat- Pengabdian tanpa batas, SDM Unggul - Indonesia Maju.
Sekian ......
Wasalam Alaikum-Waruhmatulahi-Wabarukatu...
Om Shanty-Shanty Om
Namo Budhaya
Salam Sejahtera
Syalom





Amanant Disusun Oleh: Oktavianus Umbu Kuta,S.Pd.Gr
Amanat disampaikan Oleh: Jupriadi Jongu Pari, S.Pd. - Sebagai pembina Upacara dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan ke-74 Tahun Republik Indonesia-SMP Negeri 2 Umbu Ratu Nggay Barat Hari Sabtu 17 Agustus Tahun 2019
bertempat Di Manggewar-Desa Sambali Loku-Kec Umbu Ratu Nggay Barat-Kab Sumba Tengah-NTT
Guru PPKN Abad 21
Peran guru kini dituntut lebih dari sekadar sumber informasi. Pasalnya, di era digital sekarang ini para siswa telah memiliki akses informasi yang sangat luas. Peran pendidik seperti yang pernah disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara masih sangat relevan dalam menghadapi era industri 4.0

peran guru di sekolah dapat dilakukan? Setidaknya ada 5 peran guru yang harus dikuatkan dalam Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Seperti yang SekolahDasar.Net kutip dari akun resmi instagram Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), inilah peran guru masa kini:

1. Pengajar
Guru mampu menyampaikan mata pelajaran agar dimengerti dan di dipahami oleh siswa.

2. Katalisator
Guru diharapkan mampu untuk mengindentifikasi, menggali dan mengoptimalkan potensi anak didik.

3. 'Penjaga gawang'
Guru membantu anak didik untuk mampu menyaring pengaruh-pengaruh negatif yang ada di lingkungan, termasuk di dunia maya.

4. Fasilitator
Guru membantu siswa menjadi subyek dalam proses pembelajaran, menjadi teman diskusi dan juga bertukar pikiran.

5. Penghubung
Guru mampu menghubungkan anak didik dengan sumber-sumber yang beragam, baik di dalam maupun di luar sekolah.

Dengan peran ini, diharapkan nantinya guru mampu menyiapkan anak didik untuk memiliki kecakapan abad 21, yakni 4C: Critical Thinking (berpikir kritis dan analitis), Creative and Innovative (kreatif dan inovatif), Communicative (komunikatif), dan Collaborative (kolaboratif).

Guru merupakan salah satu kunci kesuksesan pendidikan penguatan karakter (PPK). Hal ini dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy. Oleh sebab itu, beban kerja guru harus diatur sedemikian rupa sehingga selain bisa memenuhi kewajiban sertifikasi juga menjadi pihak yang harus bisa membangun sinergi  "Tripusat itu adalah sekolah, masyarakat dan keluarga. Guru harus mampu menjadikannya beririsan satu sama lain sehingga siswa terbentuk karakternya tidak hanya dari jam tatap muka di kelas saja, tetapi juga dengan lingkungan dan masyarakat," kata Mendikbud yang SekolahDasar.Net kutip dari JPNN  (11/07/17).

Dalam PPK, guru harus mampu mengolah situasi agar siswa memiliki 4C. Yakni, critical thinking, communication skill, creativity and innovation, serta collaboration. Pentingnya penguasaan 4C  sebagai sarana meraih kesuksesan, khususnya di abad 21, abad di mana dunia berkembang dengan sangat cepat dan dinamis.

"Untuk itu pembelajaran tidak hanya mengandalkan kelas. Guru harus bisa mengajak siswa lebih aktif, memecahkan masalah, bekerja dalam tim, saling menghormati dan menghargai," kata Guru Besar Universitas Negeri Malang ini saat di Mataram.

Ia menyebutkan, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah sebagai pintu masuk penerapan PPK melalui pengaturan jam kerja guru. Diharapkan aktivitas belajar siswa tidak membosankan karena dilakukan di kelas saja, tapi lebih menyenangkan karena melalui beragam metode yang dikelola guru.

4 TANTANGAN


JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia sebagai negara berpenduduk terbesar ke-4 dunia selayaknya memanfaatkan keunggulan komparatif tersebut.

Terlebih lagi, negara ini memiliki jumlah penduduk muda yang besar. Badan Pusat Statistik mencatat, paling tidak 40 persen dari 260 juta penduduk Indonesia merupakan generasi milenial.

Besarnya populasi muda tersebut menimbulkan situasi yang dikenal sebagai bonus demografi.

"Bila ingin memetik keuntungan dari bonus demografi, kita perlu mendongkrak kualitas sumber daya manusia sejak saat ini. Pendidikannya paling tidak mesti setara SMA atau SMK," ujar Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan  dan Kebudayaan Supriano dalam Lokakarya Nasional dalam Rangka Hari Guru Sedunia 2018, di Jakarta, Selasa (2/10/2018).

Dalam rangka mengangkat kualitas penduduk Tanah Air, ucap Supriano, peran guru sebagai ujung tombak pendidikan juga mesti ditingkatkan.

Sebab, sedikitnya ada empat tantangan pendidikan yang mesti dihadapi guru zaman sekarang. Aspek-aspek itu adalah:

1. Revolusi industri 4.0

Pengaruh teknologi digital semakin menyatu dengan hidup manusia. Itulah esensi dari revolusi industri 4.0 saat ini. Segala sesuatunya mulai melekat dengan penggunaan internet (internet of things).

"Kondisi tersebut menimbulkan potensi hilangnya sejumlah pekerjaan di masa depan. Inilah yang mesti disiapkan guru terhadap anak muridnya sejak dini," kata Supriano.

2. Globalisasi

Kompetisi antarnegara diyakini bakal semakin trengginas dalam beberapa waktu ke depan.


Saat ini saja, Indonesia beserta negara Asia Tenggara telah menyatu dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Persaingan global tersebut dipandang Supriano membuat peningkatan kualitas guru menjadi suatu keniscayaan. Dengan begitu, kompetensi anak didik pun bisa semakin baik.

3. Kebutuhan domestik

Indonesia sebagai negara yang ekonominya tengah berkembang membutuhkan pasokan sumber daya manusia yang banyak pula.

Nah, agar ekonomi suatu negara kuat tentunya dibutuhkan keandalan dari para penduduknya.

"Kita mau tak mau mesti mencetak generasi-generasi unggul di masa mendatang," tutur Supriano.

4. Bertumbuhnya generasi milenial

Besarnya penduduk muda Indonesia dipandang sebagai suatu tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan.

Pola-pola pengajaran monoton selayaknya mulai ditinggalkan. Sebab, generasi milenial lazimnya cepat jenuh dan menyukai kegiatan dinamis.

"Apalagi media sosial makin berkembang di kalangan generasi milenial. Inilah tantangan bagi guru dan dunia pendidikan Indonesia saat ini," tuntas Supriano.